Peptida dan Ikatan Peptida






Peptida merupakan molekul yang terbentuk dari dua atau lebih asam amino. Jika jumlah asam amino masih di bawah 50 molekul disebut peptida, namun jika lebih dari 50 molekul disebut dengan protein. Asam amino saling berikatan dengan ikatan peptida. Ikatan peptida terjadi jika atom nitrogen pada salah satu asam amino berikatan dengan gugus karboksil dari asam amino lain. Peptida terdapat pada setiap makhluk hidup dan berperan pada beberapa aktivitas biokimia. Peptida dapat berupa enzim, hormon, antibiotik, dan reseptor.
Suatu peptida ialah suatu amida yang dibentuk dari dua asam amino atau lebih. Ikatan amida antra suatu gugus a-amino dari suatu asam amino dan gugus karboksil dari asam amino lain disebut ikatan peptida. Contoh peptida berikut yang dibentuk dari alanina dan glisina, disebut alanilglisina, menggambarkan suatu ikatan peptida.
Tiap asam amino dalam suatu molekul peptida disebut suatu satuan (unit) atau suatu residu. Alanilglisina mempunyai dua residu : residu alinina dan residu glisina. Bergantung pada banyaknya satuan asam amino dalam molekul itu, maka suatu peptida dirujuk sebagai dipeptida, suatu tripeptida, dan seterusnya.
Suatu polipeptida ialah suatu peptida dengan banyak sekali residu asam amino. Apa perbedaan suatu polipeptida dan suatu protein? Sebenarnya tidak ada. Keduanya adalah poliamida yang tersusun dari asam-asam amino. Menurut perjanjian, suatu poliamida dengan residu asam amino kurang dari 50 dikelompokan sebagai peptida, sedangkan poliamida yang lebih besar dianggap sebagai protein.
Dalam dipeptida alanilglisina itu, residu alanina memiliki gugus amino bebas dan satuan glisina mempunyai suatu gugus karboksil bebas. Namun alanina dan glisina dapat digabungkan dengan cara lain untuk membentuk glisilalanina.Dalam mana glisina mempunyai gugus amino bebas dan alinina mempunyai gugus karboksil bebas.
Dua peptide yang berlainan dari alinina dan glisinia : Makin banyak residu asam amino dalam suatu peptida, makin banyak kemungkinan strukturnya. Glisina dan alanina dapat digabung menurut enam cara yang berbeda. Sepuluh asam amino berlainan dapat menghasilkan lebih dari empat trilyun (1012) dekapeptida.
Untuk tujuan pembahasan diperlukan untuk menyatakan peptoda dengan cara yang sistematik. Asam amino dengan gugus amino bebas biasanya ditaruh pada ujung kiri struktur itu. Asam amino ini disebut asam amino N-ujung. Asam amino dengan gugus karboksil bebas ditaruh di ujung kanan disebut asam amino C-ujung. Nama peptida terdiri dari nama asam amino seperti pemunculannya dari kiri kekanan, dimulai dari asam-amino N-ujung.
Ikatan Peptida merupakan ikatan yang terbentuk ketika atom kaarbon pada gugus karboksill suatu molekul berbagi elektron dengan atom nitrogen pada gugus amina molekul lainnya. Reaksi yang terjadi merupakan reaksi kondensasi, hal ini ditandai dengan lepasnya molekul air ketika reaksi berlangsung.  Hasil dari ikatan ini merupakan ikatan CO-NH, dan menghasilkan molekul yang disebut amida. Ikatan peptida ini dapat menyerap panjang gelombang 190-230 nm.
Cara Memutus Ikatan Peptida
Ikatan peptida dapat dirusak atau diputus dengan melakukan hidrolisis. Ikatan peptida terbentuk dari protein yang mempunyai kecenderungan untuk putus secara spontan ketika terdapat air. Dari hasil pemutusan tersebut, dilepaskan energi sebesar 10 kJ/mol. Namun, proses pemutusan terjadi sangat lambat. Pada umumnya, organisme menggunakan enzim untuk membantu proses pemutusan atau pembentukan ikatan peptida untuk mempercepat reaksi.
 Dua molekul asam amino dapat saling berikatan membentuk ikatan kovalen melalui suatu ikatan amida yang disebut dengan ikatan peptida. Ikatan kovalen ini terjadi antara gugus karboksilat dari satu asam amino dengan gugus α amino dari molekul asam amino lainnya dengan melepas molekul air.
References:
Ralp J. Fessenden and Joan S. Fessenden. 1986. Organic Chemistry, Third Edition. University Of Montana: Wadsworth, Inc, Belmont, Califfornia.
Pertanyaan:
1.      Apa perbedaan struktur Asam amino dengan Protein?
2.      Bagaimana klasifikasi dari Asam amino dan Protein?
3.      Bagaimana sintesis Peptida?

Aterosklerosis dan Hiperlipidemia


Aterosklerosis
Gambar 1

Aterosklerosis adalah suatu keadaan dimana terdapat penyempitan dan penebalan arteri karena penumpukan plak pada dinding arteri. Penumpukan plak tersebut terjadi saat lapisan sel pada dinding dalam arteri (endothelium) yang bertugas menjaga kelancaran aliran darah mengalami kerusakan.
Plak yang menyebabkan aterosklerosis terdiri dari kolesterol, zat lemak, kalsium, dan fibrin (zat dalam darah).  Plak dapat terbawa aliran darah hingga menyebabkan penyumbatan, atau membentuk bekuan darah pada permukaan plak. Hal tersebut menyebabkan peredaran darah dan oksigen dari arteri ke organ tubuh terhambat.
Aterosklerosis ini tidak terbentuk begitu saja, tetapi melalui tahap-tahap yang cukup panjang. Aterosklerosis dimulai dengan  kerusakan pada endotelium (lapisan pada dinding pembuluh darah) yang disebabkan oleh tekanan darah tinggi, sering merokok, atau karena kolesterol jahat yang tinggi dalam darah. Kerusakan endotel ini kemudian berkembang menjadi terbentuknya plak.
Selanjutnya, ketika kolesterol jahat melewati endotelium yang rusak ini, kolesterol akan memasukin dinding pembuluh darah. Hal ini membuat sel darah putih mengalir ke daerah endotelium yang rusak tersebut untuk membantu mencerna kolesterol jahat. Lama-kelamaan, kolesterol dan sel-sel ini menumpuk dan membentuk plak di dinding arteri. Untuk membentuk plak ini diperlukan waktu yang sangat lama hingga bertahun-tahun.
Sumbatan pada pembuluh darah juga dapat pecah secara mendadak sehingga menyebabkan darah membeku di daerah sekitar pembuluh darah arteri yang pecah. Jika hal ini terjadi di otak, maka dapat menyebabkan stroke dan jika terjadi di jantung, maka dapat menyebabkan serangan jantung. Karena prosesnya yang panjang dan memakan waktu bertahun-tahun, sehingga tidak heran jika aterosklerosis ini banyak diderita oleh orang yang sudah berumur.
Patogenesis aterosklerosis saat ini didasarkan pada teori hipotesis respons terhadap cedera, yang menjelaskan bahwa aterosklerosis merupakan suatu respons radang kronik dinding arteri yang dicetus-kan oleh adanya cedera endotel (disfungsi endotel). Cedera endotel merupakan dasar pertama dari hipotesis respons terhadap cedera. Penyebab dari cedera atau disfungsi endotel adalah peningkatan kadar LDL dan radikal bebas yang disebabkan oleh merokok, hipertensi, diabetes melitus, faktor genetik, peningkatan kon-sentrasi plasma, homosistein, infeksi mikroorganisme seperti virus herpes atau chlamydia pneumoniae, dan kombinasi dari faktor-faktor ini. Hal-hal penting yang terutama menyebabkan cedera endotel adalah gangguan hemodinamik dan hiperkolesterolemia. Patogenesis aterosklerosis mencakup peran cedera endotel, radang, lemak, sel-sel otot polos, dan faktor lain seperti oligoklonal dan infeksi.
Dalam perkembangan aterosklerosis maka pembentukan bercak ateroma sepanjang dinding pembuluh darah arteri akan menyebabkan pembuluh darah itu menyempit dan mengeras. Pembentukan bercak ateroma diawalioleh adanya fatty streak,yang merupakan lesi terawal dari aterosklerosis.  Fatty streak ini tidak menyebabkan penebalan dinding pembuluh darah dan tidak menyebabkan gangguan aliran darah. Biasanya fattystreakmuncul sebagai bintik pipih berwarna kuning,multipel,dengan diameter <1 mm, yang menyatu dalam larikan panjang sekitar 1 cm atau lebih.

Hiperlipidemia
Gambar 2

Secara umum Hiperlipidemia adalah suatu keadaan yang ditandai oleh peningkatan kadar lipid/lemak ddarah melewati batas normal. Berdasarkan jenisnya, hiperlipidemia dibagi menjadi 2, yaitu :
1. Hiperlipidemia Primer
Banyak disebabkan oleh karena kelainan genetik. Biasanya kelainan ini ditemukan pada waktu pemeriksaan laboratorium secara kebetulan. Pada umumnya tidak ada keluhan, kecuali pada keadaan yang agak berat tampak adanya Xantoma (penumpukan lemak di bawah jaringan kulit).
2. Hiperlipidemia Sekunder
Pada jenis ini, peningkatan kadar lipid darah disebabkan oleh suatu penyakit tertentu, misal : diabetes mellitus, gangguan tiroid, penyakit hepar, dan penyakit ginjal. Hiperlipidemia sekunder bersifat reversible ( berulang ).
Ada juga obat-obatan yang menyebabkan gangguan metabolisme lemak, seperti β – Bloker , diuretik, kontrasepsi oral  (estrogen, gestagen).
Terdapat pula berbagai faktor resiko yang dapat terpicu ataupun memicu terjadinya hyperlipidemia, diantaranya:
§  Aterosklerosis
§  Penyakit jantung coroner
§  Pankreatitis (peradangan pada organ pankreas)
§  Diabetes mellitus
§  Gangguan tiroid
§  Penyakit hepar dan penyakit ginjal
§  Penyakit jantung

v  Klasifikasi Hiperlipidemia
1.      Hiperlipidemia (Hyperlipoproteinemia adalah tingginya kadar lemak (kolesterol, trigliserida maupun keduanya) dalam darah. Hal ini berkaitandengan intake lemak dan karbohidrat dalam jumlah yang berlebihan dalamtubuh (Balai Informasi Teknologi Lipi, 2009).Hiperlipidemia adalah keadaan dimana terjadi peningkatankonsentrasi setiap atau semua lipid dalam darah. Sekarang ini pola hidupmasyarakat cenderung mengkonsumsi makanan kaya lemak dan rendah seratyang berdampak buruk bagi kesehatan, terutama kesehatan jantung dan pembuluh darah.
2.      Hiperlipidemia herediter Hiperlipidemia Herediter (Hiperlipoproteinemia) adalah kadar kolesterol dan trigliserida yang sangat tinggi, yang sifatnya diturunkan.Hiperlipidemia herediter mempengaruhi sistem tubuh dalam fungsimetabolisme dan membuang lemak.

v  Patofisiologi Hiperlipidemia
Lemak (disebut juga lipid) adalah zat yang kaya energi yang berfungsisebagai sumber energi utama untuk proses metabolisme tubuh. Lemak diperoleh darimakanan dan dibentuk di dalam tubuh, terutama di hati. Lemak disimpan dalam sel-sel lemak tubuh, sehingga dapat digunakan di kemudian hari. Lipid yang disimpan berfungsi untuk melindungi tubuh dari dingin dan membantu melindungi tubuh terhadap cedera.
Lemak merupakan komponen penting dari selaput sel, selubungyang membungkus sel-sel saraf serta eksresi empedu. Makanan kaya lipid yang kita makan terdiri atas kolesterol dantrigliserid.Selain koleterol yang berasal dari makanan, dalam usus juga terdapat kolesterol darihati yang dieksresi bersama empedu ke usus halus. Kolesterol dan trigliserida dalam usus halus akan diserap ke dalam enterosit mukosa usus halus. Trigliserid akan diserap sebagai asam lemak bebas. Kolesterol akan diserap sebagai kolesterol.
Dalam mukosa usus halus asam lemak bebas akan diubah lagi menjadi trigliserid dankolesterol akan mengalami esterifikasi menjadi kolesterol ester. Lipid dalam darahterdiri atas kolesterol, kolesterol ester, trigliserid, fosfolipid, dan asam lemak bebas. Kolesterol adalah suatu jenis lemak yang ada dalam tubuh dan dibagi menjadiLDL, HDL, total kolesterol dan trigliserida. Dari hati, kolesterol diangkut olehlipoprotein yang bernama LDL (Low Density Lipoprotein) untuk dibawa ke sel-sel tubuh yang memerlukan, termasuk ke sel otot jantung, otak dan lain-lain agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
HDL (high density lipoprotein) adalah bentuk LP yang memiliki komponenkolesterol paling sedikit. Dibentuk di usus dan hati, HDL ini akan menyerapkolesterol bebas dari pembuluh darah, atau bagian tubuh lain seperti sel makrofag,kemudian membawanya ke hati.
VLDL (very low density LP) adalah LP yang dibentuk di hati yang kemudian akan diubah di pembuluh darah menjadi LDL (low density LP). Bentuk LP ini memiliki komponen kolesterol paling banyak dan akanmembawa kolesterol tersebut ke jaringan seperti dinding pembuluh darah. Kelebihan kolesterol akan diangkut kembali oleh lipoprotein yang disebut HDL (High Density Lipoprotein) untuk dibawa kembali ke hati yang selanjutnyaakan diuraikan lalu dibuang ke dalam kandung empedu sebagai asam (cairan) empedu.

LDL mengandung lebih banyak lemak daripada HDL sehingga ia akanmengambang di dalam darah. Protein utama yang membentuk LDL adalah Apo-B(apolipoprotein-B). LDL dianggap sebagai lemak yang "jahat" karena dapatmenyebabkan penempelan kolesterol di dinding pembuluh darah.Sebaliknya, HDL disebut sebagai lemak yang "baik" karena dalam operasinyaia membersihkan kelebihan kolesterol dari dinding pembuluh darah denganmengangkutnya kembali ke hati. Protein utama yang membentuk HDL adalah Apo-A(apolipoprotein). HDL ini mempunyai kandungan lemak lebih sedikit danmempunyai kepadatan tinggi sehingga lebih berat.
            Konsentrasi kolesterol pada High-Dendity Lipoprotein (HDL) dan Low-Density (LDL)/Very-Low-Density (VLDL) Lipoprotein adalah predictor kuat untuk  penyakit jantung koroner. HDL fungsional menawarkan perlindungan dengan caramemindahkan kolesterol dari sel dan atheroma. Konsentrasi tinggi dari LDL dankonsentrasi rendah dari HDL fungsional sangat terkait dengan penyakitkardiovaskular karena beresiko tinggi terkena ateroklerosis. Keseimbangan antaraHDL dan LDL semata-mata ditentukan secara genetikal, tetapi dapat dirubah dengan pengobatan, pemilihan makanan dan factor lainnya (Anonim, 2008). Kadar laboratorium :
·         Kolesterol total:<200 : optimal200-239 : diinginkan>240 : tinggi
·         LDL<100 : optimal100-129 : mendekati optimal>130 : tinggi
·         HDL>40/>50 : optimal (pria/wanita)
·         Trigliserida<150 : optimal150-200 : medekati optimal>200 : tinggi
Hiperlipidemia adalah keadaan meningkatnya kadar lipid darah dalam lipoprotein (kolesterol dan trigliserida). Hal ini berkaitan dengan intake lemak dan karbohidrat dalam jumlah yang berlebihan dalam tubuh. Keadaan tersebut akan menimbulkan resiko terjadinya artherosclerosis dan hipertensi.

Artherosclerosis merupakan keadaan terbentuknya bercak yang menebal dari dinding arteri bagian dalam dan dapat menutup saluran dari aliran darah dalam arteri koronaria. Bila penyempitan terjadi pada pembuluh darah jantung dapat menyebabkan Penyakit Jantung Koroner.
Pembuluh darah koroner yang menderita artherosklerosis selain menjadi tidak elastis, juga mengalami penyempitan sehingga tahanan aliran darah dalam pembuluh koroner juga naik. Naiknya tekanan sistolik karena pembuluh darah tidak elastis serta naiknya tekanan diastolik akibat penyempitan pembuluh darah disebut juga tekanan darah tinggi atau hipertensi.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa hiperlipidemia adalah keadaan meningkatnya kadar lipid darah dalam lipoprotein (kolesterol dan trigliserida) berkaitan dengan intake lemak dan karbohidrat tinggi yang beresiko terjadinya artherosclerosis dan hipertensi.

References:
Larsen, P.R., Kronenberg, H.M., Melmed, Shlomo, Polonsky, K.S. 2003. Disorders of Lipid Metabolism 10th ed. Vol II. Philadelphia: Saunders.hal: 1510-1583
Ross Russell. 2005. Atherosclerosis –An Inflammatory Disease.  N.Engl. J.Med. 199 340:115-126.
Puteh Abdul Gani. 2001. Disfungsi endotel –suatu komplikasi awal atherosclerosis. JKS. 1:19-25.

Pertanyaan:
1.      Apa penyebab dari aterosklerosis?
2.      Bagaimana pengaruh dari makanan dapat berpengaruh terhadap terjadinya hyperlipidemia?
3.      Apa dampak dari terjadinya hyperlipidemia?
4.      Apa faktor penyebab terjadinya aterosklerosis?

RAPID (Randomized Pharmacophore Identification for Drug Design)


Farmakofor

Farmakofor adalah deskripsi abstrak dari fitur molekuler yang diperlukan untuk pengenalan molekuler ligan oleh makromolekul biologis. IUPAC mendefinisikan farmakofor sebagai "sekumpulan fitur sterik dan elektronik yang diperlukan untuk memastikan interaksi supramolekul optimal dengan target biologis spesifik dan untuk memicu (atau menghalangi) respons biologisnya". Model farmakofor menjelaskan bagaimana ligan struktural yang beragam dapat berikatan dengan situs reseptor yang umum. Selanjutnya, model farmakopor dapat digunakan untuk mengidentifikasi melalui desain de novo atau ligan novel skrining virtual yang akan mengikat reseptor yang sama.
Farmakofor dapat didefinisikan sebagai denominator umum terbesar yang ditunjukan oleh set molekul yang aktif. Definisi ini menghilangkan kesalahan yang sering ditemukan pada literatur kimia medisinal yang mengandung penamaan farmakofor fungsional kimia sederhana seperti guanidin, sulfonamida atau dihidroimidazol (bentuk imidazolin), atau tipikal struktural skeleton seperti flavon, fenotiazin, prostaglandin atau steroid.
v  Fungsi farmakofor:
1. Mendifinisikan gugus penting yang berikatan dengan reseptor
2. Menentukan struktur 3 dimensi dari suatu molekul
3. Untuk mengetahui komformasi aktif
4. Penting untuk desain obat
5. Penting untuk menemukan obat baru.

Pengembangan model
Proses pengembangan model farmakofor umumnya melibatkan langkah-langkah berikut:
1.      Pilih satu set ligan pelatihan - Pilihlah kumpulan molekul yang beragam secara struktural yang akan digunakan untuk mengembangkan model farmakofor. Sebagai model farmakofor harus dapat membedakan antara molekul dengan dan tanpa bioaktivitas, himpunan molekul harus mencakup senyawa aktif dan tidak aktif.
2.       Analisis konformasional - Buat satu set konformasi energi rendah yang cenderung mengandung konformasi bioaktif untuk masing-masing molekul yang dipilih.
3.         Superimposisi molekul - Superimpose ("fit") semua kombinasi konformasi energi rendah dari molekul. Kelompok fungsional serupa (bioisosterik) yang umum untuk semua molekul dalam himpunan dapat dipasang (mis., Cincin fenil atau gugus asam karboksilat). Himpunan konformasi (satu konformasi dari masing-masing molekul aktif) yang menghasilkan kecocokan terbaik dianggap sebagai konformasi aktif.
4.      Abstraksi - Transformasi molekul yang dilapiskan menjadi representasi abstrak. Sebagai contoh, cincin fenil yang dilapiskan dapat disebut secara lebih konseptual sebagai elemen 'batang aromatik' farmakofor. Demikian juga, gugus hidroksi dapat ditunjuk sebagai elemen farmakofor donor / akseptor hidrogen-ikatan.
5.      Validasi - Model farmakofor adalah hipotesis yang menghitung aktivitas biologis yang diamati dari sekumpulan molekul yang mengikat target biologis yang sama. Model ini hanya berlaku sejauh ia mampu menjelaskan perbedaan aktivitas biologis dari berbagai molekul.
Ahli kimia dalam bidang komputasi yang bekerja di bidang desain obat berbasis struktur mempertimbangkan dua hal, yaitu bahan kimia dan sifat geometrik dari molekul yang berinteraksi ketika mengembangkan obat farmasi baru.
Asumsi yang mendasari adalah dimana aktivitas obat, atau aktivitas farmakophorik obat, diperoleh melalui pengenalan molekuler dan pengikatan satu molekul (ligan) ke kantong yang lain, biasanya lebih besar, seperti molekul (reseptor). Asumsi ini didukung oleh hasil eksperimen yang menunjukkan molekul dengan komplementaritas geometrik dan kimia dalam konformasi yang mengikatnya.
Ketika struktur tiga dimensi dari reseptor diketahui, maka dapat digunakan metode docking  dengan mengeksploitasi kedua hal, yaitu geometrik dan informasi kimia yang tersedia. Namun, struktur geometris molekul relatif sedikit diperoleh melalui kristalografi sinar-X atau teknik NMR. Dalam upaya untuk perkembangan obat-obatan farmasi untuk reseptor yang strukturnya tidak diketahui, ahli kimia mulai dengan mengkoleksi ligan yang telah secara eksperimental ditemukan untuk berinteraksi dengan reseptor yang dianggap sesuai. Dengan memeriksa sifat-sifat kimia dan bentuk-bentuk yang mungkin dari ligan ini, mereka mencoba mengidentifikasi serangkaian fitur yang disematkan dan yang terkandung dalam beberapa konformasi aktif dari masing-masing (atau sebagian) dari ligan. Hal ini disebut farmakofora dan dianggap penting untuk obat yang diamat aktvitasnya. Fitur dari farmakofora berinteraksi dengan fitur dari reseptor, sedangkan sisa dari ligan akan bertindak sebagai perancah. Setelah farmakofora diisolasi, hasil yang didapatkan dapat digunakan untuk meningkatkan aktivitas obat farmasi dengan lebih baik.
RAPID adalah suatu pendekatan acak untuk menemukan invariant dalam satu set senyawa yang fleksibel dan berbeda secara kimia, yaitu ligan (molekul obat) yang mendasari sistem perangkat lunak terpadu yang  saat ini sedang dikembangkan. Dimana penggunaan metode RAPID akan menggambarkan upaya dalam membuat prototipe sistem perangkat lunak yang terintegrasi, yang disebut RAPID (Randomized Pharmacophore Identification for Drug design) untuk mengatasi identifikasi farmakofora pada desain pembuatan obat baru.
Sistem RAPID digunakan untuk mencoba mengidentifikasi invariants geometrik di antara kumpulan ligan kecil. Derajat kebebasan ligan termasuk panjang ikatan, sudut ikatan (sudut antara dua obligasi berturut-turut), dan sudut dihedral atau torsional (sudut yang dibentuk oleh pertama dan ketiga dari tiga ikatan berurutan, dilihat sepanjang sumbu ikatan kedua).
Dalam prakteknya, hanya derajat kebebasan torsional yang dipertimbangkan karena ini adalah bagian yang menunjukkan variasi besar dalam nilai-nilai ligan. Jadi, dapat diansumsikan bahwa setelah konformasi diberikan, seseorang dapat mengubahnya secara otomatis menjadi bentuj-bentuk baru yang dapat dibuat sesuai tujuan dan kehendak tertentu.
Jadi dapat dikatakan bahwa RAPID atau Randomized Pharmacophore Identification for Drug design merupakan suatu metode komputerisasi yang digunakan untuk tujuan penentuan analisis dan identifikasi komfor suatu ligan sehingga dapat digunakan untuk dasar atau bahan pembuatan dan desain obat-obatan farmasi baru yang sesuai dengan kebutuhan.




Reference:
Journal:
Title: RAPID (Randomized pharmacophore identification for drug design) by P.W. Finn., L.E. Kavraki., J. Latombe., R. Motwani., C. Shelton., S. Venkatasubramanian., A. Yao. 
https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S092577219800008X

Pertanyaan:
1. Apakah setiap farmakofor mempunyai potensi yang baik untuk obat baru?
2. Apakah bisa kita menentukan golongan obat berdasarkan farmakofornya? Bagaimana caranya jika bisa?
3. Apa fungsi utama farmakofor ?
4. Apakah obat yang memiliki mekanisme kerja yang sama juga memiliki identitas farmakor yang sama?
5. Bagaimana cara menentukan letak farmakofor dalam suatu senyawa?

Terima kasih teman-teman yang sudah membaca, semoga bermanfaat~

 

Ervidian Nurfadillah Template by Ipietoon Cute Blog Design