RAPID (Randomized Pharmacophore Identification for Drug Design)


Farmakofor

Farmakofor adalah deskripsi abstrak dari fitur molekuler yang diperlukan untuk pengenalan molekuler ligan oleh makromolekul biologis. IUPAC mendefinisikan farmakofor sebagai "sekumpulan fitur sterik dan elektronik yang diperlukan untuk memastikan interaksi supramolekul optimal dengan target biologis spesifik dan untuk memicu (atau menghalangi) respons biologisnya". Model farmakofor menjelaskan bagaimana ligan struktural yang beragam dapat berikatan dengan situs reseptor yang umum. Selanjutnya, model farmakopor dapat digunakan untuk mengidentifikasi melalui desain de novo atau ligan novel skrining virtual yang akan mengikat reseptor yang sama.
Farmakofor dapat didefinisikan sebagai denominator umum terbesar yang ditunjukan oleh set molekul yang aktif. Definisi ini menghilangkan kesalahan yang sering ditemukan pada literatur kimia medisinal yang mengandung penamaan farmakofor fungsional kimia sederhana seperti guanidin, sulfonamida atau dihidroimidazol (bentuk imidazolin), atau tipikal struktural skeleton seperti flavon, fenotiazin, prostaglandin atau steroid.
v  Fungsi farmakofor:
1. Mendifinisikan gugus penting yang berikatan dengan reseptor
2. Menentukan struktur 3 dimensi dari suatu molekul
3. Untuk mengetahui komformasi aktif
4. Penting untuk desain obat
5. Penting untuk menemukan obat baru.

Pengembangan model
Proses pengembangan model farmakofor umumnya melibatkan langkah-langkah berikut:
1.      Pilih satu set ligan pelatihan - Pilihlah kumpulan molekul yang beragam secara struktural yang akan digunakan untuk mengembangkan model farmakofor. Sebagai model farmakofor harus dapat membedakan antara molekul dengan dan tanpa bioaktivitas, himpunan molekul harus mencakup senyawa aktif dan tidak aktif.
2.       Analisis konformasional - Buat satu set konformasi energi rendah yang cenderung mengandung konformasi bioaktif untuk masing-masing molekul yang dipilih.
3.         Superimposisi molekul - Superimpose ("fit") semua kombinasi konformasi energi rendah dari molekul. Kelompok fungsional serupa (bioisosterik) yang umum untuk semua molekul dalam himpunan dapat dipasang (mis., Cincin fenil atau gugus asam karboksilat). Himpunan konformasi (satu konformasi dari masing-masing molekul aktif) yang menghasilkan kecocokan terbaik dianggap sebagai konformasi aktif.
4.      Abstraksi - Transformasi molekul yang dilapiskan menjadi representasi abstrak. Sebagai contoh, cincin fenil yang dilapiskan dapat disebut secara lebih konseptual sebagai elemen 'batang aromatik' farmakofor. Demikian juga, gugus hidroksi dapat ditunjuk sebagai elemen farmakofor donor / akseptor hidrogen-ikatan.
5.      Validasi - Model farmakofor adalah hipotesis yang menghitung aktivitas biologis yang diamati dari sekumpulan molekul yang mengikat target biologis yang sama. Model ini hanya berlaku sejauh ia mampu menjelaskan perbedaan aktivitas biologis dari berbagai molekul.
Ahli kimia dalam bidang komputasi yang bekerja di bidang desain obat berbasis struktur mempertimbangkan dua hal, yaitu bahan kimia dan sifat geometrik dari molekul yang berinteraksi ketika mengembangkan obat farmasi baru.
Asumsi yang mendasari adalah dimana aktivitas obat, atau aktivitas farmakophorik obat, diperoleh melalui pengenalan molekuler dan pengikatan satu molekul (ligan) ke kantong yang lain, biasanya lebih besar, seperti molekul (reseptor). Asumsi ini didukung oleh hasil eksperimen yang menunjukkan molekul dengan komplementaritas geometrik dan kimia dalam konformasi yang mengikatnya.
Ketika struktur tiga dimensi dari reseptor diketahui, maka dapat digunakan metode docking  dengan mengeksploitasi kedua hal, yaitu geometrik dan informasi kimia yang tersedia. Namun, struktur geometris molekul relatif sedikit diperoleh melalui kristalografi sinar-X atau teknik NMR. Dalam upaya untuk perkembangan obat-obatan farmasi untuk reseptor yang strukturnya tidak diketahui, ahli kimia mulai dengan mengkoleksi ligan yang telah secara eksperimental ditemukan untuk berinteraksi dengan reseptor yang dianggap sesuai. Dengan memeriksa sifat-sifat kimia dan bentuk-bentuk yang mungkin dari ligan ini, mereka mencoba mengidentifikasi serangkaian fitur yang disematkan dan yang terkandung dalam beberapa konformasi aktif dari masing-masing (atau sebagian) dari ligan. Hal ini disebut farmakofora dan dianggap penting untuk obat yang diamat aktvitasnya. Fitur dari farmakofora berinteraksi dengan fitur dari reseptor, sedangkan sisa dari ligan akan bertindak sebagai perancah. Setelah farmakofora diisolasi, hasil yang didapatkan dapat digunakan untuk meningkatkan aktivitas obat farmasi dengan lebih baik.
RAPID adalah suatu pendekatan acak untuk menemukan invariant dalam satu set senyawa yang fleksibel dan berbeda secara kimia, yaitu ligan (molekul obat) yang mendasari sistem perangkat lunak terpadu yang  saat ini sedang dikembangkan. Dimana penggunaan metode RAPID akan menggambarkan upaya dalam membuat prototipe sistem perangkat lunak yang terintegrasi, yang disebut RAPID (Randomized Pharmacophore Identification for Drug design) untuk mengatasi identifikasi farmakofora pada desain pembuatan obat baru.
Sistem RAPID digunakan untuk mencoba mengidentifikasi invariants geometrik di antara kumpulan ligan kecil. Derajat kebebasan ligan termasuk panjang ikatan, sudut ikatan (sudut antara dua obligasi berturut-turut), dan sudut dihedral atau torsional (sudut yang dibentuk oleh pertama dan ketiga dari tiga ikatan berurutan, dilihat sepanjang sumbu ikatan kedua).
Dalam prakteknya, hanya derajat kebebasan torsional yang dipertimbangkan karena ini adalah bagian yang menunjukkan variasi besar dalam nilai-nilai ligan. Jadi, dapat diansumsikan bahwa setelah konformasi diberikan, seseorang dapat mengubahnya secara otomatis menjadi bentuj-bentuk baru yang dapat dibuat sesuai tujuan dan kehendak tertentu.
Jadi dapat dikatakan bahwa RAPID atau Randomized Pharmacophore Identification for Drug design merupakan suatu metode komputerisasi yang digunakan untuk tujuan penentuan analisis dan identifikasi komfor suatu ligan sehingga dapat digunakan untuk dasar atau bahan pembuatan dan desain obat-obatan farmasi baru yang sesuai dengan kebutuhan.




Reference:
Journal:
Title: RAPID (Randomized pharmacophore identification for drug design) by P.W. Finn., L.E. Kavraki., J. Latombe., R. Motwani., C. Shelton., S. Venkatasubramanian., A. Yao. 
https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S092577219800008X

Pertanyaan:
1. Apakah setiap farmakofor mempunyai potensi yang baik untuk obat baru?
2. Apakah bisa kita menentukan golongan obat berdasarkan farmakofornya? Bagaimana caranya jika bisa?
3. Apa fungsi utama farmakofor ?
4. Apakah obat yang memiliki mekanisme kerja yang sama juga memiliki identitas farmakor yang sama?
5. Bagaimana cara menentukan letak farmakofor dalam suatu senyawa?

Terima kasih teman-teman yang sudah membaca, semoga bermanfaat~

75 Comments:

  1. Hai ervidian
    Mau tanya nih kelebihan metode rapid dg metode lain ya apa sih.makasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. haloo, terima kasih ya sebelumnya udah mau mampir ke blog saya..
      begini, pada dasarnya RAPID adalah suatu pendekatan acak untuk menemukan invariant dalam satu set senyawa yang fleksibel dan berbeda secara kimia, yaitu ligan (molekul obat) yang mendasari sistem perangkat lunak terpadu yang saat ini sedang dikembangkan. Jadi, sistem ini memiliki kelebihan dimana sistem RAPID dapat digunakan untuk mencoba mengidentifikasi invariants geometrik di antara kumpulan ligan kecil. Derajat kebebasan ligan termasuk panjang ikatan, sudut ikatan (sudut antara dua obligasi berturut-turut), dan sudut dihedral atau torsional (sudut yang dibentuk oleh pertama dan ketiga dari tiga ikatan berurutan, dilihat sepanjang sumbu ikatan kedua).

      Hapus
  2. wah artikel nya sangat bermanfaat sekali,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

      Hapus
    2. terima kasih anggun, semoga isi artikel ini bisa bermanfaat dan saling menambah ilmu baru yaa

      Hapus
  3. Assalamualaikum Hay ervidian artikelnya benar-benar bermanfaat
    Tapi saya mau tanya apa kelebihan identifikasi desain obat dengan menggunakan metode rapid?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai dyah, terima kasih ya sudah mampir ke blog saya semoga bisa beramnfaat~
      Jadi, kelebihan sistem RAPID ini dalam mendesain obat adalah karena sistem RAPID digunakan untuk mencoba mengidentifikasi invariants geometrik di antara kumpulan ligan kecil. Derajat kebebasan ligan termasuk panjang ikatan, sudut ikatan (sudut antara dua obligasi berturut-turut), dan sudut dihedral atau torsional (sudut yang dibentuk oleh pertama dan ketiga dari tiga ikatan berurutan, dilihat sepanjang sumbu ikatan kedua), sehingga ikatan ligan yang sulit diketahui dan diidentifikasi sebelumnya dapat lebih diketahui dan sistem ini akan lebih mempermudah kita karena menggunakan sistem komputerisasi.
      semoga bisa bermanfaat yaaa

      Hapus
  4. terimakasih atas pemaparannya Ervidian. sangat membantu untuk menambah pengetahuan mengenai farmakofor :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih widya, silahkan mampir terus yaa~ ditunggu materi-materi lain yang akan lebih menarik.

      Hapus
  5. hai ervidian sya mncoba menjawab yg no 3
    farmakofor dapat berfungsi sebagai model penting untuk screening virtual, terutama dalam kasus dimana struktur 3D dari reseptor tidak diketahui dan teknik docking yang tidak berlaku

    BalasHapus
    Balasan
    1. halooo, wah jadi begitu yaa, jadi dapat dikatakan bahwa mengetahui farmakopor dapat lebih mempermudah penentuan suatu struktur senyawa yang sebelumnya cukup sulit untuk ditentukan, terima kasih yaa sudah mampir ke blog saya~

      Hapus
  6. Hy ervidian saya tertarik untuk mendiskusikan pertanyaan no 1, menurut saya setiap farmakofor tentu memiliki potensi untuk obat baru tetapi tidak semua nya baik untuk obat baru atau lebih baik dr obat yg sudah ada. Jika memang farmakor tersebut lebih minimal efek samping dan lebih maksimal efektifitasnya dibanding obat yang telah ada, tentu farmakor tersebut dapat dijadikan sebagai obat baru dan sebaliknya jika berdasarkan farmakor diketahui bahwa suatu senyawa memiliki lebih banyak efek samping daripada obat yang sudah ada tentu farmakor tersebut tidak dapat dijadikan sebagai obat baru yang efektif dan aman. Semoga membantu

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih heviza, baiklah jadi dapat disimpulkan bahwa pengetahuan atau pemahaman mengenaifarmakopor dapat membantu memberi potensi akan penemuan obat baru yang lebih baik karena dapat diketahui sebelumnya efek samping yang minimal ataupun malah membahayakan..
      semoga bermanfaat yaa, silahkan kunjungi blog saya yaa heviza suapaya bisa berbagi ilmu terus

      Hapus
    2. Baik terimakasih kembali dila, senang berbagi

      Hapus
  7. Hai ervidian, artikelnya menarik ya~ jadi ilmu saya tentang farmakopor dapat bertambah lagi nih..
    Oh iya saya coba jawab pertanyaan kedua ya, sepertinya bisa untuk menentukan golongan obat berdasarkan parmakofornya, yaitu dengan melihat struktur kimia obat, dan ikatan-ikatan (ion, van derwall dll) yang terjadi pada reseptornya, dan juga hal tersebut biasa disebut modifikasi obat lama. Caranya adalah dengan salah satunya menggunalan Computer-aided drug discovery (CADD). Semoga bisa membantu yaaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, terima kasih yustika dengan jawabannya, ternyata asik ya mempelajari farmakopor dan metode RAPID ini.

      Hapus
  8. Assalamualaikum ervidian terimakasih sudah menulis dsni sya akan mencoba menjawab pertanyaan no 3jawaban fungsi farmakofor adalah untuk menjelaskan struktur senyawa yang penting untuk pengikatan dengan reseptor dan menghasilkan farmakofor yang dapat digunakan untuk mengukur fitur struktur dari reseptor obat yang penting untuk aktivitas biologisnya dengan melihat aspek yangberperan terhadap proses pengikatannya. Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waallaikumsalam bella, terima kasih ya atas jawabannya..
      berarti dapat disimpulkan bahwa tujuan dari pemahaman mengenai farmakopor itu adalah untuk mengetahui struktur dari reseptor senyawa obat yang akan dimodifikasi ataupun dibuat ya, terima kasih ilmunya..

      Hapus
  9. Wah artikelnya menarik yaa, pertanyaannya cukup bagus nih saya coba menjawab ya untuk pertanyaan no1, dimana sesuai dengan artikel yang saya baca tidak semua farmakofor memiliki potensi yang bagus untuk obat baru karna bisa saja ia memiliki sifat toksisitas yang lebih tinggi, karena tidak semua modifikasi akan menimbulkan hasil yg baik, tergantung dari reseptor yg akan didudukinya pula serta sifat sifat dari ikatan yg ditimbulkan.
    Semoga bermanfaat yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih anggi sudah mau mengunjungi blog saya..
      jadi bisa dikatakan bahwa penentuan farmakofor bisa juga menghasilkan keadaan yang malah kurang optimal dari keadaan suatu senyawa obat ya, jadi dari sana dapat dipilah dan diketahui senyawa mana yang dapat memberi efek samping yang minim.. semoga saling bisa membantu yaa

      Hapus
  10. Wah artikelnya bisa menambah wawasan saya nih, terima kasih banyak yaa
    Saya coba jawab untuk pertanyaan ketiga, menurut saya, peran dari studi farmakofor sangat penting bagia dunia medis karena studi ini dapat meminimalisir efek toksik pada obat terhadap pasien tetapi tanpa menghilangkan efek farmakologis dari suatu obat. Sehingga hal ini perlu untuk terus dikembangkan.
    Semoga bisaa bermanfaat dan menambah ilmu bersama ya ervidian~

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih putri sudah menyempatkan waktu membaca blog saya, semoga bias selalu bermanfaat yaaa~

      Hapus
  11. Assalamu'alaikum ,
    Saya coba menjawab pertanyaan ke5, menurut saya jika farmakopor nya sama kemungkinan besar sama kurang lebih mekanisme obatnya sama, karna jika farmakofor nya sama ada kemungkinan aktivitas obat yang dimiliki sama tetapi keefektivannya biasanya berbeda. Terima kasih sebelumnyaa

    BalasHapus
  12. Terimakasih ervidian atas penjelasannya, sangat bermanfaat

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah terima kasih sudah mampir di blog sayaa, semoga bia saling menambah ilmu yaa...

      Hapus
  13. Duh akhirnya saya nemuin jawaban atas pertanyaan yang saya cari. Semoga blognya terus diisi dengan artikel2 bermanfaat seperti ini ya sist. kalau mau endorse bisa langsung contact email saya saja. terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, terima kasih loh robby, semoga bisa terus bermanfaatya, silahkan mampir terus nih di blog saya, ditunggu yaa buat postingan selanjutnyaa~

      Hapus
  14. Terima kasih ervidian, artikelnya sangat bermanfaat.
    Tapi bagaimana caranya untuk menentukan farmakopor dari suatu senyawa obat?

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih kembali yaa..
      baiklaah disini akan saya coba jelaskan, dimana hal pertama yang perlu dilakukan untuk mengidentifikasi farmakofor suatu obat ini adalah dengan menentukan struktur 3 dimensinya sehingga dapat diketahui gugus fungsi yang mana yang kemungkinan berikatan dengan reseptornya. Dan bisa dipahami dari langkah-langkah berikut ini:
      · Menentukan posisi 3D obat dengan target
      · Mengetahui gugus penting dapat terikat dengan reseptor
      · Untuk mengetahui konformasi aktif dari molekul
      · Penting sebagai dasar merancang obat
      · Penting dalam hal menemukan obat baru
      Semoga bia membantu dan bermanfaat yaa~

      Hapus
  15. Akhirnya dgn membaca artikel ini wawasan saya bertambah dan semoga dengan artikel ini bisa membuat nilai saya menjadi bagus. Terimakasih semoga selamat dunia akhirat..

    BalasHapus
    Balasan
    1. wahh, terima kasih nanda..
      Semoga nilainya bisa bagus terus ya!
      aamiin, semoga bisa bermanfaat terus, jangan lupa mampir lagi di blog saya ya~

      Hapus
  16. Hai Dilla, sangat bermanfaat. Kalo menurut kharin fungsi farmakopor itu memvisualisasikan struktur molekul obat dalam bentuk 3D

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih sebelumnya kharina, semoga bisa jadi lebih faham juga ya terkait farmakopor dan rapid. terima kasih juga penjelasan singkatnyaa~

      Hapus
  17. Hay dilaa menurut saya untuk jawaban no 1 yaitu stiap farmakofor itu pasti memiliki potensi yg baik untk obat baru,trgantung juga dari analog dari farmakofor trsbut. Tujuan nya itu juga kan mengurangi toksik dari obat efek smping dan mningkatkan efektivitas dri obat trsbut

    BalasHapus
    Balasan
    1. haloo jugaa, terima kasih yaa sudah bias membantu menjawab! semoga bisa membantu terus~

      Hapus
  18. Hay kakak,, artikelnya sangat bagus sekali, dan sangat mudah dipahami..terimakasih
    Apa kelebihan metode rapid dia bandingkan dengan metode lainnya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. halo jugaa lexsa, kalo lebih singkatnya metode RAPID ini lebih hemat waktu dan biaya soalnya kita tidak perlu membutuhkan banyak biaya dalam penentuan senyawa suatu obat ataupun suatu lead compound yang akan diuji karena dapat langsung diuji dalam RAPID.
      jadi sekiranya begitu, kalo belum dipahami boleh ditanyakan lagii

      Hapus
  19. Hai dilaa.. terimakasih blognya bagus sekali. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 3 yaitu fungsi farmakofor yaitu untuk menjelaskan struktur senyawa yang penting untuk pengikatan dengan reseptor dan menghasilkan farmakofor yang dapat digunakan untuk mengukur fitur struktur dari reseptor obat yang penting untuk aktivitas biologisnya dengan melihat aspek yangberperan terhadap proses pengikatannya. Semoga bermanfaat dila

    BalasHapus
    Balasan
    1. hay juga halimah, terima kasih yaa semoga bisa saling membantuu

      Hapus
  20. Haii dila, artikelnya sangat bermanfaat, dan menambah pengetahuan lagi., dsni saya mau bantu jawab pertanyaan no 4 ya, menurut saya jika farmakopor nya sama kemungkinan besar sama krg lebih mekanisme obatnya sama, dan jika farmakofor nya sama ada kemungkinan aktivitas obat yang dimiliki sama tetapi keefektivannya biasanya berbeda,
    Sekian.. klo ada yg kurang tolong di tambahin yaa.,:))

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai juga megaa, wah terima kasih loh udah mau membatu jawab dan mau mampir ke blog sayaa~

      Hapus
  21. hay dila.. saya ingin memberi pendapat soal no 1. menurut saya setiap parmakopor pasti berpotensi untuk membentuk obat baru.. karena satu lead compund dapat dikembangkan menjadi berbagai senywa yang memiliki aktivitas terapi. karena dapat di modifikasi dengan menganti suatu ikatan atau gugus molekul tertentu... sehingga study farmakopor sangat penting dilakukan agar perkembangan obat baru dapat mudah di lakukan dan meningkatkan keefektifan suatu obat. sehingga obat dapat lebih aman

    BalasHapus
    Balasan
    1. hay juga bernike, terima kasih ya atas jawabnnya sangat membantu nih, semoga bisa lebih dipahami juga ya mengenai farmakopor dan rapid dari artikel yang sudah saya buat:)

      Hapus
  22. Halo dilla
    Penjelasannya sangat membantu
    Terimakasih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hallo juga eugenia, sama-sama dan terima kasih sudah mau mampirr

      Hapus
  23. Assalamualaikum Dian, terimakasih atas artikel yang diberikan, di tunggu artikel selanjutnya:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. waallaikumsalam aurora, samasama yaa..
      siapp silahkan ditunggu yaa

      Hapus
  24. Teman artikel sudah bagus.
    Tapi sy masih bingung apakah obat yg memiliki mekanjame kerja yang sama juga memiliki identitas farmkopor yg sama?
    Thx:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hay liddini, saya coba jawab yaa..
      suatu obat dengan farmakopor yangkemungkinan besar sama krg lebih mekanisme obatnya sama, dan jika farmakofor nya sama ada kemungkinan aktivitas obat yang dimiliki sama tetapi keefektivannya biasanya berbeda, semoga bisa membantu yaaa

      Hapus
  25. hay dilla, artikel anda menarik sekali, saya akan menantikan tulisan anda selanjutnya ya :)

    BalasHapus
  26. hay dila, saya akan menjawab soal no 3 yaitu fungsi utama farmakopor adalah . Mendifinisikan gugus penting yang berikatan dengan reseptor
    2. Menentukan struktur 3 dimensi dari suatu molekul
    3. Untuk mengetahui komformasi aktif
    4. Penting untuk desain obat
    5. Penting untuk menemukan obat baru.

    BalasHapus
  27. Materinya sangat membabtu ervidian. Namun ada beberapa yang ingin saya ketahui. Apa pengaruh farmakofor ini dalam bidang medis sendiri ya? Terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih aziz, jadi farmakofor adalah kumpulan gugus gugus fungsi yg mengisi site reseptor, jadi yg diperlukan adalah suatu lead compund yg dapat dimodifikaai menjadi analog compound dimana modifikasi obat dapat terjadi jika diketahui suatu farmakofornya..
      sehingga, pengetahuan mengenai farmakofor dapat membantu dalam penemuan obat baru dengan efek samping yang lebih minim dan efektifitas penyembuhan yang lebih baik..
      semoga bisa membantuu

      Hapus
  28. baiklah saya akan mencoba menjawab Fungsi utama farmakofor yaitu:
    1. menentukan posisi 3D obat dengan target
    2. menentukan gugus penting dapat terikat dengan reseptor
    3. untuk mengetahui konformasi aktif dari molekul
    4. penting sebagai dasar merancang obat
    5. penting dalam hal menemukan obat baru

    BalasHapus
  29. Alhamdulillah dengan membaca artikel ini, saya bisa mengetahui bagaimana cara identifikasi farmakofor.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, terima kasih banyak yaa fitri..
      senang bisa membantu, dan jangan lupa untuk mampir lagi yaa~

      Hapus
  30. Haii dila, artikelnya sangat bermanfaat, dan menambah pengetahuan lagi., dsni saya mau bantu jawab pertanyaan no 4 ya, menurut saya jika farmakopor nya sama kemungkinan besar sama krg lebih mekanisme obatnya sama, dan jika farmakofor nya sama ada kemungkinan aktivitas obat yang dimiliki sama tetapi keefektivannya biasanya berbeda,
    Sekian.. klo ada yg kurang tolong di tambahin yaa.,:))

    BalasHapus
    Balasan
    1. siyaap terima kasih ovi atas jawabannya~ terima aksih sudah mau mampir membaca artikel saya yaaa

      Hapus
  31. Haii ervidian nurfadillah.. Artikelnya sangat bermanfaat sekali bagi saya, nusa dan bangsa, izin kopas untuk status di twitter ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, terima kasih banyak loh..
      semoga retweet twitternya bisa banyak yaa biar jadi viral~

      Hapus
  32. Haloo ervidian, sya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 3 fungsi farmakofor adalah untuk menjelaskan struktur senyawa yang penting untuk pengikatan dengan reseptor dan menghasilkan farmakofor yang dapat digunakan untuk mengukur fitur struktur dari reseptor obat yang penting untuk aktivitas biologisnya dengan melihat aspek yangberperan terhadap proses pengikatannya.
    Semoga membantu yaa

    BalasHapus
  33. Semangat sayangkuuuuuuu, sama-sama s.farm yaaa:*

    BalasHapus
    Balasan
    1. siyaaap^^, aamiin sayangkuu~
      semoga saling kuat eaaaa

      Hapus
  34. Hai dilla pemaparan yang sangat baik. Dan membantu saya dalam belajar Terimakasih

    BalasHapus
  35. Wah info nya bagus sekali bisa jadi bahan untuk belajar ku. Terimakasih ya kaaa

    BalasHapus
  36. Hallo dila, artikel yg bermanfaat sekali:)

    BalasHapus

 

Ervidian Nurfadillah Template by Ipietoon Cute Blog Design