Farmakofor
Farmakofor adalah deskripsi
abstrak dari fitur molekuler yang diperlukan untuk pengenalan molekuler ligan
oleh makromolekul biologis. IUPAC mendefinisikan farmakofor sebagai
"sekumpulan fitur sterik dan elektronik yang diperlukan untuk memastikan
interaksi supramolekul optimal dengan target biologis spesifik dan untuk memicu
(atau menghalangi) respons biologisnya". Model farmakofor menjelaskan
bagaimana ligan struktural yang beragam dapat berikatan dengan situs reseptor
yang umum. Selanjutnya, model farmakopor dapat digunakan untuk mengidentifikasi
melalui desain de novo atau ligan novel skrining virtual yang akan mengikat
reseptor yang sama.
Farmakofor dapat didefinisikan sebagai denominator umum terbesar
yang ditunjukan oleh set molekul yang aktif. Definisi ini menghilangkan
kesalahan yang sering ditemukan pada literatur kimia medisinal yang mengandung
penamaan farmakofor fungsional kimia sederhana seperti guanidin, sulfonamida
atau dihidroimidazol (bentuk imidazolin), atau tipikal struktural skeleton
seperti flavon, fenotiazin, prostaglandin atau steroid.
v Fungsi farmakofor:
1.
Mendifinisikan gugus penting yang berikatan dengan reseptor
2. Menentukan
struktur 3 dimensi dari suatu molekul
3. Untuk
mengetahui komformasi aktif
4. Penting untuk
desain obat
5. Penting untuk
menemukan obat baru.
Pengembangan model
Proses pengembangan model farmakofor
umumnya melibatkan langkah-langkah berikut:
1.
Pilih satu set ligan pelatihan - Pilihlah kumpulan molekul yang beragam
secara struktural yang akan digunakan untuk mengembangkan model farmakofor.
Sebagai model farmakofor harus dapat membedakan antara molekul dengan dan tanpa
bioaktivitas, himpunan molekul harus mencakup senyawa aktif dan tidak aktif.
2.
Analisis konformasional -
Buat satu set konformasi energi rendah yang cenderung mengandung konformasi
bioaktif untuk masing-masing molekul yang dipilih.
3.
Superimposisi molekul -
Superimpose ("fit") semua kombinasi konformasi energi rendah dari
molekul. Kelompok fungsional serupa (bioisosterik) yang umum untuk semua
molekul dalam himpunan dapat dipasang (mis., Cincin fenil atau gugus asam
karboksilat). Himpunan konformasi (satu konformasi dari masing-masing molekul
aktif) yang menghasilkan kecocokan terbaik dianggap sebagai konformasi aktif.
4.
Abstraksi - Transformasi molekul yang dilapiskan menjadi representasi
abstrak. Sebagai contoh, cincin fenil yang dilapiskan dapat disebut secara
lebih konseptual sebagai elemen 'batang aromatik' farmakofor. Demikian juga,
gugus hidroksi dapat ditunjuk sebagai elemen farmakofor donor / akseptor
hidrogen-ikatan.
5.
Validasi - Model farmakofor adalah hipotesis yang menghitung aktivitas
biologis yang diamati dari sekumpulan molekul yang mengikat target biologis
yang sama. Model ini hanya berlaku sejauh ia mampu menjelaskan perbedaan
aktivitas biologis dari berbagai molekul.
Ahli kimia dalam bidang komputasi yang bekerja di
bidang desain obat berbasis struktur mempertimbangkan dua hal, yaitu bahan kimia dan sifat geometrik dari molekul yang berinteraksi ketika mengembangkan
obat farmasi baru.
Asumsi yang mendasari
adalah dimana aktivitas obat, atau aktivitas farmakophorik obat, diperoleh melalui pengenalan molekuler dan
pengikatan satu molekul (ligan) ke kantong yang lain, biasanya lebih besar, seperti molekul (reseptor). Asumsi
ini didukung oleh hasil eksperimen yang menunjukkan molekul dengan komplementaritas geometrik dan kimia dalam konformasi yang mengikatnya.
Ketika struktur tiga
dimensi dari reseptor diketahui, maka dapat digunakan
metode docking dengan mengeksploitasi kedua hal,
yaitu geometrik dan informasi kimia yang tersedia. Namun, struktur geometris molekul relatif sedikit diperoleh melalui kristalografi sinar-X
atau teknik NMR. Dalam upaya untuk perkembangan
obat-obatan farmasi untuk
reseptor yang strukturnya tidak diketahui, ahli kimia mulai dengan mengkoleksi ligan yang telah secara
eksperimental ditemukan untuk berinteraksi dengan reseptor yang dianggap sesuai. Dengan memeriksa sifat-sifat
kimia dan bentuk-bentuk yang mungkin dari ligan ini, mereka mencoba
mengidentifikasi serangkaian fitur yang disematkan dan yang terkandung dalam
beberapa konformasi aktif dari masing-masing (atau sebagian) dari ligan. Hal ini disebut farmakofora dan dianggap penting untuk obat yang
diamat aktvitasnya. Fitur dari farmakofora berinteraksi dengan fitur dari
reseptor, sedangkan sisa dari ligan akan bertindak sebagai perancah. Setelah farmakofora
diisolasi, hasil yang didapatkan dapat digunakan untuk meningkatkan aktivitas obat farmasi dengan lebih baik.
RAPID adalah suatu pendekatan acak untuk
menemukan invariant dalam satu set senyawa yang fleksibel dan berbeda secara
kimia, yaitu ligan (molekul obat) yang mendasari sistem perangkat lunak terpadu
yang saat ini sedang dikembangkan. Dimana
penggunaan metode RAPID akan menggambarkan upaya dalam membuat prototipe sistem
perangkat lunak yang terintegrasi, yang disebut RAPID (Randomized Pharmacophore
Identification for Drug design) untuk mengatasi identifikasi farmakofora pada
desain pembuatan obat baru.
Sistem RAPID digunakan untuk mencoba
mengidentifikasi invariants geometrik di antara kumpulan ligan kecil. Derajat kebebasan
ligan termasuk panjang ikatan, sudut ikatan (sudut antara dua obligasi
berturut-turut), dan sudut dihedral atau torsional (sudut yang dibentuk oleh
pertama dan ketiga dari tiga ikatan berurutan, dilihat sepanjang sumbu ikatan
kedua).
Dalam prakteknya, hanya derajat kebebasan
torsional yang dipertimbangkan karena ini adalah bagian yang menunjukkan variasi
besar dalam nilai-nilai ligan. Jadi, dapat diansumsikan bahwa setelah
konformasi diberikan, seseorang dapat mengubahnya secara otomatis menjadi
bentuj-bentuk baru yang dapat dibuat sesuai tujuan dan kehendak tertentu.
Jadi dapat dikatakan bahwa RAPID atau Randomized Pharmacophore Identification for
Drug design merupakan suatu metode komputerisasi yang digunakan untuk
tujuan penentuan analisis dan identifikasi komfor suatu ligan sehingga dapat
digunakan untuk dasar atau bahan pembuatan dan desain obat-obatan farmasi baru
yang sesuai dengan kebutuhan.
Reference:
Journal:
Title: RAPID (Randomized pharmacophore identification for drug design) by P.W. Finn., L.E. Kavraki., J. Latombe., R. Motwani., C. Shelton., S. Venkatasubramanian., A. Yao.
https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S092577219800008XPertanyaan:
1. Apakah setiap farmakofor mempunyai potensi yang baik untuk obat baru?
2. Apakah bisa kita menentukan golongan obat berdasarkan farmakofornya? Bagaimana caranya jika bisa?
3. Apa fungsi utama farmakofor ?
4. Apakah obat yang memiliki mekanisme kerja yang sama juga memiliki identitas farmakor yang sama?
5. Bagaimana cara menentukan letak farmakofor dalam suatu senyawa?
Terima kasih teman-teman yang sudah membaca, semoga bermanfaat~



Hai ervidian
BalasHapusMau tanya nih kelebihan metode rapid dg metode lain ya apa sih.makasih
haloo, terima kasih ya sebelumnya udah mau mampir ke blog saya..
Hapusbegini, pada dasarnya RAPID adalah suatu pendekatan acak untuk menemukan invariant dalam satu set senyawa yang fleksibel dan berbeda secara kimia, yaitu ligan (molekul obat) yang mendasari sistem perangkat lunak terpadu yang saat ini sedang dikembangkan. Jadi, sistem ini memiliki kelebihan dimana sistem RAPID dapat digunakan untuk mencoba mengidentifikasi invariants geometrik di antara kumpulan ligan kecil. Derajat kebebasan ligan termasuk panjang ikatan, sudut ikatan (sudut antara dua obligasi berturut-turut), dan sudut dihedral atau torsional (sudut yang dibentuk oleh pertama dan ketiga dari tiga ikatan berurutan, dilihat sepanjang sumbu ikatan kedua).
wah artikel nya sangat bermanfaat sekali,,
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
Hapusterima kasih anggun, semoga isi artikel ini bisa bermanfaat dan saling menambah ilmu baru yaa
HapusAssalamualaikum Hay ervidian artikelnya benar-benar bermanfaat
BalasHapusTapi saya mau tanya apa kelebihan identifikasi desain obat dengan menggunakan metode rapid?
Hai dyah, terima kasih ya sudah mampir ke blog saya semoga bisa beramnfaat~
HapusJadi, kelebihan sistem RAPID ini dalam mendesain obat adalah karena sistem RAPID digunakan untuk mencoba mengidentifikasi invariants geometrik di antara kumpulan ligan kecil. Derajat kebebasan ligan termasuk panjang ikatan, sudut ikatan (sudut antara dua obligasi berturut-turut), dan sudut dihedral atau torsional (sudut yang dibentuk oleh pertama dan ketiga dari tiga ikatan berurutan, dilihat sepanjang sumbu ikatan kedua), sehingga ikatan ligan yang sulit diketahui dan diidentifikasi sebelumnya dapat lebih diketahui dan sistem ini akan lebih mempermudah kita karena menggunakan sistem komputerisasi.
semoga bisa bermanfaat yaaa
terimakasih atas pemaparannya Ervidian. sangat membantu untuk menambah pengetahuan mengenai farmakofor :))
BalasHapusTerima kasih widya, silahkan mampir terus yaa~ ditunggu materi-materi lain yang akan lebih menarik.
Hapushai ervidian sya mncoba menjawab yg no 3
BalasHapusfarmakofor dapat berfungsi sebagai model penting untuk screening virtual, terutama dalam kasus dimana struktur 3D dari reseptor tidak diketahui dan teknik docking yang tidak berlaku
halooo, wah jadi begitu yaa, jadi dapat dikatakan bahwa mengetahui farmakopor dapat lebih mempermudah penentuan suatu struktur senyawa yang sebelumnya cukup sulit untuk ditentukan, terima kasih yaa sudah mampir ke blog saya~
HapusHy ervidian saya tertarik untuk mendiskusikan pertanyaan no 1, menurut saya setiap farmakofor tentu memiliki potensi untuk obat baru tetapi tidak semua nya baik untuk obat baru atau lebih baik dr obat yg sudah ada. Jika memang farmakor tersebut lebih minimal efek samping dan lebih maksimal efektifitasnya dibanding obat yang telah ada, tentu farmakor tersebut dapat dijadikan sebagai obat baru dan sebaliknya jika berdasarkan farmakor diketahui bahwa suatu senyawa memiliki lebih banyak efek samping daripada obat yang sudah ada tentu farmakor tersebut tidak dapat dijadikan sebagai obat baru yang efektif dan aman. Semoga membantu
BalasHapusterima kasih heviza, baiklah jadi dapat disimpulkan bahwa pengetahuan atau pemahaman mengenaifarmakopor dapat membantu memberi potensi akan penemuan obat baru yang lebih baik karena dapat diketahui sebelumnya efek samping yang minimal ataupun malah membahayakan..
Hapussemoga bermanfaat yaa, silahkan kunjungi blog saya yaa heviza suapaya bisa berbagi ilmu terus
Baik terimakasih kembali dila, senang berbagi
HapusHai ervidian, artikelnya menarik ya~ jadi ilmu saya tentang farmakopor dapat bertambah lagi nih..
BalasHapusOh iya saya coba jawab pertanyaan kedua ya, sepertinya bisa untuk menentukan golongan obat berdasarkan parmakofornya, yaitu dengan melihat struktur kimia obat, dan ikatan-ikatan (ion, van derwall dll) yang terjadi pada reseptornya, dan juga hal tersebut biasa disebut modifikasi obat lama. Caranya adalah dengan salah satunya menggunalan Computer-aided drug discovery (CADD). Semoga bisa membantu yaaa..
wah, terima kasih yustika dengan jawabannya, ternyata asik ya mempelajari farmakopor dan metode RAPID ini.
HapusAssalamualaikum ervidian terimakasih sudah menulis dsni sya akan mencoba menjawab pertanyaan no 3jawaban fungsi farmakofor adalah untuk menjelaskan struktur senyawa yang penting untuk pengikatan dengan reseptor dan menghasilkan farmakofor yang dapat digunakan untuk mengukur fitur struktur dari reseptor obat yang penting untuk aktivitas biologisnya dengan melihat aspek yangberperan terhadap proses pengikatannya. Terima kasih
BalasHapusWaallaikumsalam bella, terima kasih ya atas jawabannya..
Hapusberarti dapat disimpulkan bahwa tujuan dari pemahaman mengenai farmakopor itu adalah untuk mengetahui struktur dari reseptor senyawa obat yang akan dimodifikasi ataupun dibuat ya, terima kasih ilmunya..
Wah artikelnya menarik yaa, pertanyaannya cukup bagus nih saya coba menjawab ya untuk pertanyaan no1, dimana sesuai dengan artikel yang saya baca tidak semua farmakofor memiliki potensi yang bagus untuk obat baru karna bisa saja ia memiliki sifat toksisitas yang lebih tinggi, karena tidak semua modifikasi akan menimbulkan hasil yg baik, tergantung dari reseptor yg akan didudukinya pula serta sifat sifat dari ikatan yg ditimbulkan.
BalasHapusSemoga bermanfaat yaa
terima kasih anggi sudah mau mengunjungi blog saya..
Hapusjadi bisa dikatakan bahwa penentuan farmakofor bisa juga menghasilkan keadaan yang malah kurang optimal dari keadaan suatu senyawa obat ya, jadi dari sana dapat dipilah dan diketahui senyawa mana yang dapat memberi efek samping yang minim.. semoga saling bisa membantu yaa
Wah artikelnya bisa menambah wawasan saya nih, terima kasih banyak yaa
BalasHapusSaya coba jawab untuk pertanyaan ketiga, menurut saya, peran dari studi farmakofor sangat penting bagia dunia medis karena studi ini dapat meminimalisir efek toksik pada obat terhadap pasien tetapi tanpa menghilangkan efek farmakologis dari suatu obat. Sehingga hal ini perlu untuk terus dikembangkan.
Semoga bisaa bermanfaat dan menambah ilmu bersama ya ervidian~
terima kasih putri sudah menyempatkan waktu membaca blog saya, semoga bias selalu bermanfaat yaaa~
HapusAssalamu'alaikum ,
BalasHapusSaya coba menjawab pertanyaan ke5, menurut saya jika farmakopor nya sama kemungkinan besar sama kurang lebih mekanisme obatnya sama, karna jika farmakofor nya sama ada kemungkinan aktivitas obat yang dimiliki sama tetapi keefektivannya biasanya berbeda. Terima kasih sebelumnyaa
terima kasih irma atas jawabannya~
HapusTerimakasih ervidian atas penjelasannya, sangat bermanfaat
BalasHapuswah terima kasih sudah mampir di blog sayaa, semoga bia saling menambah ilmu yaa...
HapusDuh akhirnya saya nemuin jawaban atas pertanyaan yang saya cari. Semoga blognya terus diisi dengan artikel2 bermanfaat seperti ini ya sist. kalau mau endorse bisa langsung contact email saya saja. terimakasih
BalasHapuswah, terima kasih loh robby, semoga bisa terus bermanfaatya, silahkan mampir terus nih di blog saya, ditunggu yaa buat postingan selanjutnyaa~
HapusTerima kasih ervidian, artikelnya sangat bermanfaat.
BalasHapusTapi bagaimana caranya untuk menentukan farmakopor dari suatu senyawa obat?
terima kasih kembali yaa..
Hapusbaiklaah disini akan saya coba jelaskan, dimana hal pertama yang perlu dilakukan untuk mengidentifikasi farmakofor suatu obat ini adalah dengan menentukan struktur 3 dimensinya sehingga dapat diketahui gugus fungsi yang mana yang kemungkinan berikatan dengan reseptornya. Dan bisa dipahami dari langkah-langkah berikut ini:
· Menentukan posisi 3D obat dengan target
· Mengetahui gugus penting dapat terikat dengan reseptor
· Untuk mengetahui konformasi aktif dari molekul
· Penting sebagai dasar merancang obat
· Penting dalam hal menemukan obat baru
Semoga bia membantu dan bermanfaat yaa~
Akhirnya dgn membaca artikel ini wawasan saya bertambah dan semoga dengan artikel ini bisa membuat nilai saya menjadi bagus. Terimakasih semoga selamat dunia akhirat..
BalasHapuswahh, terima kasih nanda..
HapusSemoga nilainya bisa bagus terus ya!
aamiin, semoga bisa bermanfaat terus, jangan lupa mampir lagi di blog saya ya~
Hai Dilla, sangat bermanfaat. Kalo menurut kharin fungsi farmakopor itu memvisualisasikan struktur molekul obat dalam bentuk 3D
BalasHapusterima kasih sebelumnya kharina, semoga bisa jadi lebih faham juga ya terkait farmakopor dan rapid. terima kasih juga penjelasan singkatnyaa~
HapusHay dilaa menurut saya untuk jawaban no 1 yaitu stiap farmakofor itu pasti memiliki potensi yg baik untk obat baru,trgantung juga dari analog dari farmakofor trsbut. Tujuan nya itu juga kan mengurangi toksik dari obat efek smping dan mningkatkan efektivitas dri obat trsbut
BalasHapushaloo jugaa, terima kasih yaa sudah bias membantu menjawab! semoga bisa membantu terus~
HapusHay kakak,, artikelnya sangat bagus sekali, dan sangat mudah dipahami..terimakasih
BalasHapusApa kelebihan metode rapid dia bandingkan dengan metode lainnya?
halo jugaa lexsa, kalo lebih singkatnya metode RAPID ini lebih hemat waktu dan biaya soalnya kita tidak perlu membutuhkan banyak biaya dalam penentuan senyawa suatu obat ataupun suatu lead compound yang akan diuji karena dapat langsung diuji dalam RAPID.
Hapusjadi sekiranya begitu, kalo belum dipahami boleh ditanyakan lagii
Hai dilaa.. terimakasih blognya bagus sekali. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 3 yaitu fungsi farmakofor yaitu untuk menjelaskan struktur senyawa yang penting untuk pengikatan dengan reseptor dan menghasilkan farmakofor yang dapat digunakan untuk mengukur fitur struktur dari reseptor obat yang penting untuk aktivitas biologisnya dengan melihat aspek yangberperan terhadap proses pengikatannya. Semoga bermanfaat dila
BalasHapushay juga halimah, terima kasih yaa semoga bisa saling membantuu
HapusHaii dila, artikelnya sangat bermanfaat, dan menambah pengetahuan lagi., dsni saya mau bantu jawab pertanyaan no 4 ya, menurut saya jika farmakopor nya sama kemungkinan besar sama krg lebih mekanisme obatnya sama, dan jika farmakofor nya sama ada kemungkinan aktivitas obat yang dimiliki sama tetapi keefektivannya biasanya berbeda,
BalasHapusSekian.. klo ada yg kurang tolong di tambahin yaa.,:))
hai juga megaa, wah terima kasih loh udah mau membatu jawab dan mau mampir ke blog sayaa~
Hapushay dila.. saya ingin memberi pendapat soal no 1. menurut saya setiap parmakopor pasti berpotensi untuk membentuk obat baru.. karena satu lead compund dapat dikembangkan menjadi berbagai senywa yang memiliki aktivitas terapi. karena dapat di modifikasi dengan menganti suatu ikatan atau gugus molekul tertentu... sehingga study farmakopor sangat penting dilakukan agar perkembangan obat baru dapat mudah di lakukan dan meningkatkan keefektifan suatu obat. sehingga obat dapat lebih aman
BalasHapushay juga bernike, terima kasih ya atas jawabnnya sangat membantu nih, semoga bisa lebih dipahami juga ya mengenai farmakopor dan rapid dari artikel yang sudah saya buat:)
HapusHalo dilla
BalasHapusPenjelasannya sangat membantu
Terimakasih :)
hallo juga eugenia, sama-sama dan terima kasih sudah mau mampirr
HapusAssalamualaikum Dian, terimakasih atas artikel yang diberikan, di tunggu artikel selanjutnya:)
BalasHapuswaallaikumsalam aurora, samasama yaa..
Hapussiapp silahkan ditunggu yaa
Teman artikel sudah bagus.
BalasHapusTapi sy masih bingung apakah obat yg memiliki mekanjame kerja yang sama juga memiliki identitas farmkopor yg sama?
Thx:)
hay liddini, saya coba jawab yaa..
Hapussuatu obat dengan farmakopor yangkemungkinan besar sama krg lebih mekanisme obatnya sama, dan jika farmakofor nya sama ada kemungkinan aktivitas obat yang dimiliki sama tetapi keefektivannya biasanya berbeda, semoga bisa membantu yaaa
hay dilla, artikel anda menarik sekali, saya akan menantikan tulisan anda selanjutnya ya :)
BalasHapushay sindy, terima kasih yaaa
Hapushay dila, saya akan menjawab soal no 3 yaitu fungsi utama farmakopor adalah . Mendifinisikan gugus penting yang berikatan dengan reseptor
BalasHapus2. Menentukan struktur 3 dimensi dari suatu molekul
3. Untuk mengetahui komformasi aktif
4. Penting untuk desain obat
5. Penting untuk menemukan obat baru.
hay bernikee, terima kasih ya atas jawabnnya
HapusMaterinya sangat membabtu ervidian. Namun ada beberapa yang ingin saya ketahui. Apa pengaruh farmakofor ini dalam bidang medis sendiri ya? Terimakasih
BalasHapusterima kasih aziz, jadi farmakofor adalah kumpulan gugus gugus fungsi yg mengisi site reseptor, jadi yg diperlukan adalah suatu lead compund yg dapat dimodifikaai menjadi analog compound dimana modifikasi obat dapat terjadi jika diketahui suatu farmakofornya..
Hapussehingga, pengetahuan mengenai farmakofor dapat membantu dalam penemuan obat baru dengan efek samping yang lebih minim dan efektifitas penyembuhan yang lebih baik..
semoga bisa membantuu
baiklah saya akan mencoba menjawab Fungsi utama farmakofor yaitu:
BalasHapus1. menentukan posisi 3D obat dengan target
2. menentukan gugus penting dapat terikat dengan reseptor
3. untuk mengetahui konformasi aktif dari molekul
4. penting sebagai dasar merancang obat
5. penting dalam hal menemukan obat baru
hay putri..
Hapusterima kasih ya atas jawabnnya~
Alhamdulillah dengan membaca artikel ini, saya bisa mengetahui bagaimana cara identifikasi farmakofor.
BalasHapuswah, terima kasih banyak yaa fitri..
Hapussenang bisa membantu, dan jangan lupa untuk mampir lagi yaa~
Haii dila, artikelnya sangat bermanfaat, dan menambah pengetahuan lagi., dsni saya mau bantu jawab pertanyaan no 4 ya, menurut saya jika farmakopor nya sama kemungkinan besar sama krg lebih mekanisme obatnya sama, dan jika farmakofor nya sama ada kemungkinan aktivitas obat yang dimiliki sama tetapi keefektivannya biasanya berbeda,
BalasHapusSekian.. klo ada yg kurang tolong di tambahin yaa.,:))
siyaap terima kasih ovi atas jawabannya~ terima aksih sudah mau mampir membaca artikel saya yaaa
HapusHaii ervidian nurfadillah.. Artikelnya sangat bermanfaat sekali bagi saya, nusa dan bangsa, izin kopas untuk status di twitter ya
BalasHapuswah, terima kasih banyak loh..
Hapussemoga retweet twitternya bisa banyak yaa biar jadi viral~
Haloo ervidian, sya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 3 fungsi farmakofor adalah untuk menjelaskan struktur senyawa yang penting untuk pengikatan dengan reseptor dan menghasilkan farmakofor yang dapat digunakan untuk mengukur fitur struktur dari reseptor obat yang penting untuk aktivitas biologisnya dengan melihat aspek yangberperan terhadap proses pengikatannya.
BalasHapusSemoga membantu yaa
haloo jugaa, terima kasih yaa atas jawabannya~
HapusSemangat sayangkuuuuuuu, sama-sama s.farm yaaa:*
BalasHapussiyaaap^^, aamiin sayangkuu~
Hapussemoga saling kuat eaaaa
Ngangoooo bee
BalasHapusYah:( masnya kok ngegas sihh
HapusMaterinya sangat membantu sya
BalasHapusWah terima kasih yaaaa
HapusHai dilla pemaparan yang sangat baik. Dan membantu saya dalam belajar Terimakasih
BalasHapusWah info nya bagus sekali bisa jadi bahan untuk belajar ku. Terimakasih ya kaaa
BalasHapusHallo dila, artikel yg bermanfaat sekali:)
BalasHapus